Sebagai sarana pembelajaran publik mengenai pembangunan kawasan perdesaan, Konferensi Transformasi Desa mempertemukan aktor-aktor desa dengan pemerintah, akademisi, LSM, pihak swasta, mitra pembangunan, mahasiswa, dan jurnalis, untuk berbagi ide, praktik baik, dan pembelajaran, dalam format diskusi panel interaktif.

TemaKeberhasilan dan Tantangan Pelaksanaan UU DesaBerdasarkan Target RPJMN 2015–2019dan Bukti-Bukti Lapangan

Sejak disahkan pada 15 Januari 2014, semangat kemandirian, keadilan, dan keberlanjutan yang diusung oleh UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa terus menggelora hingga hari ini. Sebanyak 162 ribu kilometer jalan terbangun; 927,4 kilometer jembatan terhubung; dan 18.594 posyandu tersedia—semua pembangunan ini memberi harapan desa yang maju dan sejahtera bukanlah mimpi belaka. Namun, seperti berbagai kebijakan lainnya, selalu ada ruang untuk perbaikan. Isu-isu mengenai percepatan pemerataan pembangunan, indikator efektivitas alokasi anggaran, atau peningkatan kualitas tenaga ahli di lapangan menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan dalam lima tahun ke depan. Sesi pertama KT Desa 2020 membahas secara spesifik pencapaian kunci dan ruang untuk perbaikan dari pelaksanaan UU Desa dengan berpijak pada kajian, laporan, dan hasil analisis yang dihasilkan oleh para pemangku kepentingan terkait. Direncanakan hadir membawakan materi, yaitu:

Moderator

Marissa Anita

Penyiar

Moderator

Marissa Anita

Penyiar

TemaPenetrasi Teknologi DigitalSebagai Katalisator Penggerak Ekonomi Desa

Kehadiran berbagai macam perusahaan rintisan berbasis teknologi memberikan gambaran semakin kondusif dan strategisnya ekosistem teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa perusahaan rintisan bahkan telah menjelma sebagai decacorn, alias perusahaan dengan valuasi lebih dari US$10 miliar. Kondisi ini tak pelak menggemburkan persepsi bahwa kota dan desa di Indonesia siap bertransformasi sebagai masyarakat ekonomi digital. Pun demikian, muncul beberapa pendapat yang mengindikasikan ekosistem digital tumbuh subur di perkotaan, tetapi belum berhasil berangsur-angsur menjadi tulang punggung ekonomi di perdesaan. Simpang siur ini menimbulkan pertanyaan besar yang memerlukan pemikiran oleh para pihak terkait: bagaimana teknologi digital dapat diterima masyarakat desa sehingga mampu menjadi katalisator penggerak ekonomi desa? Sesi kedua KT Desa 2020 membahas gagasan-gagasan yang berpotensi mempercepat proses digitalisasi di perdesaan dengan memaparkan bukti-bukti dan kisah sukses perdesaan di Indonesia maupun negara lain. Direncanakan hadir sebagai narasumber, yaitu:

Ridwan Kamil*

Gubernur Jawa Barat

*Dalam konfirmasi

Moderator

Andini Effendi

Penyiar

Moderator

Andini Effendi

Penyiar

TemaDeregulasi dan Realokasi Dana Desauntuk Mempercepat Transformasi Struktural di Perdesaan

Penyusunan payung hukum yang semakin detail dan mengikat seharusnya mampu menjadi panduan yang memudahkan perangkat desa terkait pemanfaatan Dana Desa. Akan tetapi, pada praktiknya, penambahan regulasi tersebut cenderung mengubah apa yang sudah berjalan sehingga malah mempersulit pelaksanaan program. Di sisi lain, kinerja pembangunan desa terus membaik seiring dengan peningkatan jumlah alokasi Dana Desa selama lima tahun terakhir. Tercatat sebanyak Rp70 triliun digelontorkan pemerintah hanya pada 2019 saja—jauh lebih tinggi daripada awal penyaluran senilai Rp20,76 triliun pada 2015—yang berujung pada penurunan angka kemiskinan secara nasional. Meski demikian, segala upaya pemberantasan kemiskinan dan ketimpangan dinilai memerlukan percepatan. Sesi ketiga KT Desa 2020 membahas secara detail rencana strategis dan taktis guna meningkatkan kualitas pelaksanaan UU Desa, terutama dikaitkan dengan RPJMN 2020–2024 dan butir-butir pembelajaran selama lima tahun terakhir. Direncanakan hadir sebagai narasumber, yaitu:

Moderator

Prabu Revolusi

Penyiar

Moderator

Prabu Revolusi

Penyiar